Material plastik kresek kita, dibawa „air mengalir sampai jauh“..

Air mengalir sampai jauhPlastik kresek atau perabot plastik yang kita gunakan di Indonesia pada umumnya merupakan jenis material yang dikenal dengan nama Polyethylene (PE), Polystyrene/stiropor (PS), Polypropylene (PP) atau Polyethylene terephthalate (PET). Jenis materi ini sangat sulit terurai dan dapat tinggal pada siklus hidup manusia dalam waktu puluhan tahun bahkan lebih (berdasarkan perhitungan proyeksi). Baik PE untuk kresek sampai bahan pernik-pernik scrub pembersih (microbeads), PET pembuat botol-botol plastik AMDK dan sejenisnya, PS sebagai materi dasar wadah makanan sekali buang (single use packaging) maupun PP yang pemakaiannya meluas dengan karakter termoplastiknya, semua ini tidak mampu diproses oleh mikroorganisme alami. Mereka tidak mengidentifikasi barang-barang tersebut sebagai makanan, jadinya tidak terkompos maupun terurai. Walaupun kasat mata sudah hancur terkubur di tanah, specimen dari material-material tersebut hanya terfrakmentasi menjadi partikel kecil yang disebut mikroplasctic, tetapi samasekali tidak mengalami pembusukan/terkomposasi, dalam jumlah yang terus bertambah memberikan impact dalam perannya sebagai pencemar (pollutant) tanah dan biota air.

Sayangnya, beberapa pendapat yang berkembang menyatakan bahwa plastik yang sudah dimodifikasi dengan sebutan oxo-degradable plastics merupakan material yang diklaim sebagai „mudah terurai“[1]. Realitasnya produk material tersebut adalah plastik konvensional seperti PE, PET, PP, PS yang ditambahkan zat aditif guna mempercepat proses oksidasi (dikenal dengan claim ‘prodegradant’). Modif-produk ini memang mudah hancur menjadi microplastics dengan bantuan matahari dan oksigen udara, tetapi tidaklah terurai.

Bagaimana plastik mencemari biota air

Di berbagai tempat ditemukan adanya fenomena ikan yang doyan makan butiran microplastic[2]. Hasil otopsi menunjukkan di banyak kasus, pada pencernaan ikan-ikan yang mati ditemukan banyak butiran microplastic. Bagaimana ikan-ikan bisa lebih menyukai makan plastic ketimbang makanan alaminya, benarkah ini merupakan perilaku yang tak lazim mereka?

Jawabannya tidak. Ikan-ikan masih makan makanan alami mereka berupa ganggang dan mikroplankton, tetapi butiran mikroplastic maupun bongkahan/serihan plastik kecil di permukaan air laut menjadi tempat menempelnya mikroplankton dan ganggang. Seiring waktu, terakumulasinya partikel tersebut di permukaan air laut membentuk permadani plastic yang berfungsi sebagai filter halus yang menjaring biota air makanan alami ikan-ikan kecil. Saat mereka memakannya, masuklah pollutant ke dalam rantai makanan. Seberapa jauh akibatnya terhadap kesehatan sudah terungkap sedikit demi sedikit. Ada indikasi, ikan yang banyak terkontaminasi zat-zat tersebut cenderung mati sebelum mencapai usia reproduktif, atau beberapa percobaan menunjukkan adanya kerusakan otak pada ikan[4]. Penelitian di bidang lain mengindikasi adanya pengaruh microplastics dan nanoplastics terhadap kesehatan manusia[3].

Walaupun tema micro- dan nanoplastics masih mengundang perdebatan sehubungan dengan penerbitan UU larangan penggunaan PE-microbeads pada produk personal care dan kosmetik[5][6], tetapi penelitian yang mengarah pada efek kesehatan[7][8] adalah tema tersendiri, araha pemelitiannya menjadi semakin jelas.

Katakunci: microplastics, marine biology, microbeads, ingestion, histopathological alterations, nanoplastics, oxo-biodegradable, prodegradant

Referensi:

  1. Kubowicz S and B. Booth A (2017) Biodegradability of Plastics: Challenges and Misconceptions. Sci. Technol., 2017, 51 (21), pp 12058-12060
  2. Güven O, Gökdağ K, Jovanović B, Kıdeyş AE (2017) Microplastic litter composition of the Turkish territorial waters of the Mediterranean Sea, and its occurrence in the gastrointestinal tract of fish. Environ Pollut., 2017 Apr; 223: 286-294
  3. Human Health Impacts of Microplastics and Nanoplastics, Report of the NJDEP-Science Advisory Board
  4. Karin Mattsson, Elyse V. Johnson, Anders Malmendal, Sara Linse, Lars-Anders Hansson, Tommy Cedervall. Brain damage and behavioral disorders in fish induced by plastic nanoparticles delivered through the food chain. Scientific Reports, 2017; 7 (1) DOI: 10.1038/s41598-017-10813-0
  5. Hannah Devlin, Journal retracts controversial paper on dangers of microplastics to fish, sumber dari: https://www.theguardian.com/environment/2017/may/04/authors-retract-controversial-paper-on-dangers-of-microplastics-to-fish-microbeads (diakses Mei 2018)
  6. Fiona Harvey, Microplastics killing fish before they reach reproductive age, study finds, sumber dari: https://www.theguardian.com/environment/2016/jun/02/microplastics-killing-fish-before-they-reach-reproductive-age-study-finds (diakses Mei 2018)
  7. Oona M. Lönnstedt*, Peter Eklöv (2016) Environmentally relevant concentrations of microplastic particles influence larval fish ecology. Science 03 Jun 2016, 352, Issue 6290, pp. 1213-1216 DOI: 10.1126/science.aad8828
  8. Lorena M. Rios Mendoza, Hrissi Karapanagioti and Nancy Ramírez Álvarez (2018) Micro(nanoplastics) in the marine environment: Current knowledge and gaps. Environmental Science & Health, 2018, 1:47–51

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s